Film Joker yang merupakan antagonis dalam
serial Batman, baru-baru ini rilis dan tayang di Indonesia. Film ini cukup
fenomenal mengingat karakter Joker yang unik sebagai villain dari
Batman. Sebab Joker melakukan kejahatan bukan atas dasar materi ataupun
tuntutan lain di luar dirinya.
Motif tindakannya datang dari dalam dirinya. Dirinya menganggap tindak kejahatan yang dilakukan olehnya ditujukan sebagai “hiburan”, pelampiasan atas tekanan hidup yang dialaminya. Ia memberikan pembenaran atas tindakannya, yang bagi orang dengan akal sehat, sebenarnya itu salah.
Motif tindakannya datang dari dalam dirinya. Dirinya menganggap tindak kejahatan yang dilakukan olehnya ditujukan sebagai “hiburan”, pelampiasan atas tekanan hidup yang dialaminya. Ia memberikan pembenaran atas tindakannya, yang bagi orang dengan akal sehat, sebenarnya itu salah.
Kemudian orang-orang yang menonton film Joker
membuat kesimpulan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Sungguh
sebuah kesalahan besar. Kesimpulan itupun sudah tidak analog dengan kondisi
Joker. Sebab ia sebenarnya menjadi jahat bukan karena kebaikannya dikhianati
oleh orang lain. Ia menjadi jahat karena “sakit” yang dideritanya tak
diperdulikan orang lain. Joker adalah tokoh dengan kondisi kejiwaan yang “tidak
baik” namun orang-orang di sekitarnya justru memperburuk kondisinya dengan
mengkhianati dan menyakiti perasaannya.
Joker kehilangan kepercayaan dengan orang-orang
yang dipercayainya, bahkan merasa tidak memiliki seorangpun yang bisa dimintai
pertolongan. Tak ada yang peduli dengan dirinya. Penny Fleck, seorang wanita
yang ia anggap sebagai seorang ibu yang baik hati dan memperdulikannya, ternyata
adalah penyebab dari masalah kejiwaan Joker. Thomas Wyne (Ayah dari Bruce
Wayne/Batman) yang sempat menjadi harapannya, namun harapan itu mati seketika
setelah dia mengetahui fakta bahwa Thomas Wyne bukan ayahnya. Cerita ibunya
bahwa Thomas adalah ayahnya merupakan kebohongan. Terapis yang biasa dia temui,
pada akhirnya tak bisa lagi ia temui karena layanan sosial untuk kesehatan jiwa
ditutup begitu saja. Bahkan dia merasa terapis itu sebenarnya juga tidak peduli
dengannya. Pekerjaannya yang selalu menuntut dirinya untuk selalu terlihat bahagia dan menyembunyikan semua perasaannya yang sesungguhnya. Teman yang ia percayai malah mengkhianatinya dan membuat dirinya
kehilangan pekerjaan. Joker dalam kehidupan pribadinya pada kenyataannya tidak
memiliki siapapun.
Akumulasi dari rasa kekecewaan, kesedihan,
kehilangan, dan kesepian membuat Joker tertekan hingga kehilangan akal
sehatnya. Tak ada ruang lagi untuk rasionalitas dan kebaikan. Jiwanya sudah
terhimpit oleh keputusasaan atas kehidupan yang dirasa tak pernah memberikan
dirinya kebahagiaan barang sedetikpun. Dia merasa kehidupannya sudah tak masuk
akal lagi. Kenyataan sudah tak lagi nyata baginya. Kematian dirasa lebih dekat
dan “nyata” adanya.
Padahal yang dibutuhkan Joker sebagai manusia
adalah seorang teman,seseorang yang bisa memahami dan menerima kondisi dirinya,
seseorang yang bisa diharapkan dan dipercaya, seseorang yang bisa diandalkan
dan dimintai pertolongan. Sayangnya, semua itu tak pernah ia dapatkan.
Sebaliknya, ia justru diasingkan, dianggap aneh karena kondisinya, ditertawakan,
ditinggalkan, dan tidak diperdulikan..
Joker memang bukan tokoh yang bisa dijadikan
contoh. Namun dari Joker seharusnya kita bisa belajar untuk lebih mengempati
orang-orang dengan mental illness. Joker bukanlah orang baik yang
tersakiti, tapi ia adalah orang “sakit” yang disakiti.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar