Jumat, 20 Maret 2026

Benarkah Joker adalah orang baik yang menjadi jahat karena tersakiti ?




Film Joker yang merupakan antagonis dalam serial Batman, baru-baru ini rilis dan tayang di Indonesia. Film ini cukup fenomenal mengingat karakter Joker yang unik sebagai villain dari Batman. Sebab Joker melakukan kejahatan bukan atas dasar materi ataupun tuntutan lain di luar dirinya.


Motif tindakannya datang dari dalam dirinya. Dirinya menganggap tindak kejahatan yang dilakukan olehnya ditujukan sebagai “hiburan”, pelampiasan atas tekanan hidup yang dialaminya. Ia memberikan pembenaran atas tindakannya, yang bagi orang dengan akal sehat, sebenarnya itu salah.
Kemudian orang-orang yang menonton film Joker membuat kesimpulan bahwa orang jahat adalah orang baik yang tersakiti. Sungguh sebuah kesalahan besar. Kesimpulan itupun sudah tidak analog dengan kondisi Joker. Sebab ia sebenarnya menjadi jahat bukan karena kebaikannya dikhianati oleh orang lain. Ia menjadi jahat karena “sakit” yang dideritanya tak diperdulikan orang lain. Joker adalah tokoh dengan kondisi kejiwaan yang “tidak baik” namun orang-orang di sekitarnya justru memperburuk kondisinya dengan mengkhianati dan menyakiti perasaannya. 

Joker kehilangan kepercayaan dengan orang-orang yang dipercayainya, bahkan merasa tidak memiliki seorangpun yang bisa dimintai pertolongan. Tak ada yang peduli dengan dirinya. Penny Fleck, seorang wanita yang ia anggap sebagai seorang ibu yang baik hati dan memperdulikannya, ternyata adalah penyebab dari masalah kejiwaan Joker. Thomas Wyne (Ayah dari Bruce Wayne/Batman) yang sempat menjadi harapannya, namun harapan itu mati seketika setelah dia mengetahui fakta bahwa Thomas Wyne bukan ayahnya. Cerita ibunya bahwa Thomas adalah ayahnya merupakan kebohongan. Terapis yang biasa dia temui, pada akhirnya tak bisa lagi ia temui karena layanan sosial untuk kesehatan jiwa ditutup begitu saja. Bahkan dia merasa terapis itu sebenarnya juga tidak peduli dengannya. Pekerjaannya yang selalu menuntut dirinya untuk selalu terlihat bahagia dan menyembunyikan semua perasaannya yang sesungguhnya. Teman yang ia percayai malah mengkhianatinya dan membuat dirinya kehilangan pekerjaan. Joker dalam kehidupan pribadinya pada kenyataannya tidak memiliki siapapun.

Akumulasi dari rasa kekecewaan, kesedihan, kehilangan, dan kesepian membuat Joker tertekan hingga kehilangan akal sehatnya. Tak ada ruang lagi untuk rasionalitas dan kebaikan. Jiwanya sudah terhimpit oleh keputusasaan atas kehidupan yang dirasa tak pernah memberikan dirinya kebahagiaan barang sedetikpun. Dia merasa kehidupannya sudah tak masuk akal lagi. Kenyataan sudah tak lagi nyata baginya. Kematian dirasa lebih dekat dan “nyata” adanya.

Padahal yang dibutuhkan Joker sebagai manusia adalah seorang teman,seseorang yang bisa memahami dan menerima kondisi dirinya, seseorang yang bisa diharapkan dan dipercaya, seseorang yang bisa diandalkan dan dimintai pertolongan. Sayangnya, semua itu tak pernah ia dapatkan. Sebaliknya, ia justru diasingkan, dianggap aneh karena kondisinya, ditertawakan, ditinggalkan, dan tidak diperdulikan..

Joker memang bukan tokoh yang bisa dijadikan contoh. Namun dari Joker seharusnya kita bisa belajar untuk lebih mengempati orang-orang dengan mental illness. Joker bukanlah orang baik yang tersakiti, tapi ia adalah orang “sakit” yang disakiti.

Tidak ada komentar: